Kabar Alumni Rumah Kepemimpinan
Ahmad Nasikun – Alumni RK Yogyakarta angkatan 4 – PhD candidate di TUDelft

Tahun 2005 kemarin, saya alhamdulillah merasakan salah satu puasa terpendek dalam hidup saya. Kala itu saya sahur jam 5.30 pagi dan sudah bisa berbuka jam 16.30 sore, kurang dari 11 jam waktu puasa disana. Menikmati Ramadhan di Maryland, Amerika Serikat saat musim dingin merupakan karunia tersendiri bagi saya, yang baru pertama kali mendapatkan pengalaman berpuasa di negeri orang.

Di Indonesia, waktu puasa sekitar 14-14.5 jam (04.15-18.45), relatif stabil dari tahun ke tahun karena kita berada sangat dekat dengan garis khatulistiwa. Kala menempuh program master di Seoul, Korea Selatan, waktu Ramadhan bertepatan dengan bulan Agustus, sekitar puncak musim panas, sehingga pukul 20.00 malam baru bisa berbuka di sebagian hari-hari Ramadhan.

Tahun ini alhamdulillah bisa merasakan puasa yg relatif lebih panjang, dimana jam 3.15 harus sudah berhenti makan sahur dan perlu menunggu matahari terbenam pukul 22.00 untuk bisa mulai berbuka puasa. Hampir 19 jam waktu puasa kami–para muslim/muslimah–di Belanda dan beberapa negara Eropa lainnya.

Rekan-rekan yang berada di belahan bumi Selatan (Australia, Selandia Baru, Brazil, Argentina dll), alhamdulillah sekarang sedang mendapat kenikmatan untuk berpuasa di musim dingin, sehingga lebih pendek. Kondisi ini akan berbalik secara pelan-pelan. Dengan perbedaan 11-12 hari setiap tahun (antara kalender Hijriah dan Masehi), maka sekitar 16 tahun lagi bumi selatan akan mengalami puasa yang lebih panjang dan muslim di Eropa bisa berbuka pukul 16.15 sore.

Hangatnya persaudaraan disini mengantarkan saya mengenang saat dahulu berpuasa bersama rekan-rekan di asrama Rumah Kepemimpinan. Kenikmatan saat bisa berbuka puasa dan sahur bersama, menjadi kenangan yang kembali terngiang.

Itulah salah satu kenikmatan sebagai seorang Muslim. Kita syukuri saat mendapat kemudahan, dan kita bersabar saat menerima cobaan. Panjang pendeknya waktu puasa bukanlah hal yang paling utama, tapi sikap kita terhadapnya-lah yang lebih penting.

Foto: Buka puasa bersama kawan-kawan Keluarga Muslim Delft (KMD), Delft, Belanda.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *